Wednesday, 28 December 2016

Review Tahun 2016

Review Tahun 2016

Januari, Februari, Maret 2016, rasanya tidak ada yang aneh, istimewa ataupun extravaganza.
Baru di April 2016 lah saya merasa duka mendalam kehilangan seorang ayah penyabar yang tak pernah marah. Dia Ayah mertua saya, Ayah dari Suami saya..... duka menyelimuti keluarga kami di tahun ini....

Mei, Juni 2016 Persiapan memasukan Raisa ke SDIT. Akhirnya setelah beberapa pertimbangan dipikirkan, kami sepakat memasukan Raisa di SDIT depan rumah. yang jaraknya tidak jauh dan juga pertimbangannya Sabtu libur.

Juli 2016 Raisa resmi jadi anak SD :) ga kerasa anak mami sudah besar hikss *terharu

Agustus, September, November, Desember selalu berusaha lebih baik lagi menjadi anak, menjadi istri, menjadi ibu, menjadi saudara, menjadi sahabat, menjadi rekan dan menjadi karyawan. yang utama adalah lebih baik lagi menjadi hamba Allah SWT... semangat memperbaiki diri...

Desember 2016 mulai proyek renovasi rumah lt. 3 biar ngejemur pakaian bisa luasan di atas, biar tidur semua bisa pindah ke lantai 2 dan biar lantai 1 rapi ga diacak2 melulu sama si ganteng n si cantik hihihi....


Read More - Review Tahun 2016

Wednesday, 4 May 2016

Buya Urwah Salim

H. Ahmad Urwah Salim, pertama kali kukenal beliau di bangku sekolah dasar ketika ku masih mengenakan pakaian putih merah. Beliau mulai mengajarku di bangku kelas empat sd kelas enam SD untuk pelajaran Nahwu, Shorof dan Bahasa Arab. Ustz Urwah, begitu ku memanggilnya dahulu...

Setiap Minggu pagi tak pernah ku absen dari les yang diselenggarakan disekolah. Duduk bertiga satu bangku karena memang kelas kami apabila les digabung menjadi satu. khusu mendengarkan dan menyimak beliau mengajarkan. Cara beliau mengajar memang sangat menyenangkan, gampang dicerna bagi kami murid-murid kecilnya. Walaupun nilaiku tidak bisa dibilang bagus-bagus amat di pelajaran ini namun aku cukup menyenangi pelajaran ini.

Beliau juga masih Saudara bila dihubungkan dengan garis keturunan Bebe (ayahku), karena ibunda beliau adalah keponakan dari Kakekku. Namun memang sudah termasuk Saudara Jauh.

Ketika bimbang untuk memutuskan melanjutkan ke jenjang pernikahan dengan anak laki-laki pertamanya (Suamiku), dialah yang datang dimimpiku. Saat itu setelah saya beberapa kali sholat Istikhoroh, saya ada dua atau tiga kali bermimpi yang sama. Saya bermimpi buya urwah ada di sebelah kiri saya sedang bersalaman dengan tamu dan kami semua ada di atas pelaminan. Itulah yang akhirnya membuat saya mantap terus melangkah dengan suami saya Udhy Baidhowy bin Urwah Salim. 

Semenjak saya mengenal buya dari kecil sampai dengan setelah saya menikah dan menjadi menantunya, tak pernah saya dapati buya marah sedikitpun. Sabar... satu kata untuknya. Hari-harinya pun dimanfaatkan untuk kegiatan postif utamanya mengaji Quran tiap harinya. Begitupun ketika beliau sakit.

Tak pernah sekalipun beliau menuntut ini itu kepada kami anak-anak dan menantunya. Tak pernah sekalipun saya direpoti olehnya. bahkan beliau lebih sering mengkhawatirkan kami anaknya dibanding mengkhawatirkan dirinya.

Buya... engkau telah kembali kepada-Nya. Namun aku belum sempat berbakti kepadamu, berbuat baik kepadamu. Bahkan meminta maaf atas salah dan kekuranganku selama ini menjadi anak menantumupun belum.

Aku yakin engkau telah tenang di sana.. Bahkan penggali kuburmupun menjadi saksi betapa mudahnya iya menggali kuburmu seperti tanah gembur sendiri atau ada yang membantunya. Bahkan yang mengaji dikuburmupun bersaksi mendengar adzan dalam kuburmu. 

Ya Allah, semoga aku dapat memetik hikmah dari semua kejadian ini dan menjadikan ini pelajaran berharga untukku agar aku lebih istiqomah dalam beribadah kepadaMu dan mempertebal iman dan takwaku kepadaMu ya Allah ya Rob...

Selamat jalan Buya, semoga anak dan keturunanmu kelak dapat mencontohmu... Aamiin yra..
Read More - Buya Urwah Salim