Dear there,
Maafkan tulisanku kali ini. Aku bukan ingin bercerita, mendongeng dan bahkan mengeluh. Aku hanya sekedar berpikir, tapi pikir yang sebenarnya tak perlu kau jawab. Mungkin, sebenarnya hanyalah pribadi ini yang bisa memutuskan dan tentunya dengan anggukan atau gelengan pak suami.
Kali ini aku berpikir, tak keras memang hingga uban memenuhi rambut ikalku. Hmmm... aku merenung, tapi tanpa menopang tanganku ke dagu.
Kira2, apa yang terjadi dengan pekerjaanku kini dalam 3 (tiga) tahun ke depan?
Usiaku saat itu sudah akan menginjak kepala 3 (tiga). Tuakah? tidak kurasa. dengan jiwa muda dan semangat yang menggelora dalam tubuhku, aku tampaknya tidak akan terlihat begitu tua diusia kepala tiga ituh. Yah paling tidak aku kan mesti pede hingga tak tampak kekhawatiran dalam raut wajahku yang nantinya malah menimbulkan kerut-kerut tak sedap itu.
Dalam tiga tahun ke depan, aku sangsi apa aku tetap sanggup bekerja di perusahaan ini? Kalau aku bertahan, itu artinya aku sudah akan menginjak tahun ketujuhku di Perusahaan ini.
Atau dalam tiga tahun ke depan, aku malah berpikir aku bakal sudah menggandeng Raisa di tangan kiriku dan menggendong adiknya Raisa di tangan kananku. Hmmm... seperti itukah?
Kalau itu yang terjadi, rasanya aku sangsi kalau aku kuat bertahan untuk tetap bekerja di sini. Inginku, ku rasa ada di tengah2 buah hatiku.
Dalam tiga tahun ke depan, seharusnya aku sudah membangun impianku mempunyai usaha sendiri. Bisnis besar yang bermula dari bisnis kecil..
Dari situlah cita-cita ku berawal. kugantung di langit-langit kamar dan akan terus kuingat hingga tercapai...
Amin yra...
Read More - Tentang Pekerjaan, Cita dan Impi