Showing posts with label in memoriam. Show all posts
Showing posts with label in memoriam. Show all posts

Wednesday, 4 May 2016

Buya Urwah Salim

H. Ahmad Urwah Salim, pertama kali kukenal beliau di bangku sekolah dasar ketika ku masih mengenakan pakaian putih merah. Beliau mulai mengajarku di bangku kelas empat sd kelas enam SD untuk pelajaran Nahwu, Shorof dan Bahasa Arab. Ustz Urwah, begitu ku memanggilnya dahulu...

Setiap Minggu pagi tak pernah ku absen dari les yang diselenggarakan disekolah. Duduk bertiga satu bangku karena memang kelas kami apabila les digabung menjadi satu. khusu mendengarkan dan menyimak beliau mengajarkan. Cara beliau mengajar memang sangat menyenangkan, gampang dicerna bagi kami murid-murid kecilnya. Walaupun nilaiku tidak bisa dibilang bagus-bagus amat di pelajaran ini namun aku cukup menyenangi pelajaran ini.

Beliau juga masih Saudara bila dihubungkan dengan garis keturunan Bebe (ayahku), karena ibunda beliau adalah keponakan dari Kakekku. Namun memang sudah termasuk Saudara Jauh.

Ketika bimbang untuk memutuskan melanjutkan ke jenjang pernikahan dengan anak laki-laki pertamanya (Suamiku), dialah yang datang dimimpiku. Saat itu setelah saya beberapa kali sholat Istikhoroh, saya ada dua atau tiga kali bermimpi yang sama. Saya bermimpi buya urwah ada di sebelah kiri saya sedang bersalaman dengan tamu dan kami semua ada di atas pelaminan. Itulah yang akhirnya membuat saya mantap terus melangkah dengan suami saya Udhy Baidhowy bin Urwah Salim. 

Semenjak saya mengenal buya dari kecil sampai dengan setelah saya menikah dan menjadi menantunya, tak pernah saya dapati buya marah sedikitpun. Sabar... satu kata untuknya. Hari-harinya pun dimanfaatkan untuk kegiatan postif utamanya mengaji Quran tiap harinya. Begitupun ketika beliau sakit.

Tak pernah sekalipun beliau menuntut ini itu kepada kami anak-anak dan menantunya. Tak pernah sekalipun saya direpoti olehnya. bahkan beliau lebih sering mengkhawatirkan kami anaknya dibanding mengkhawatirkan dirinya.

Buya... engkau telah kembali kepada-Nya. Namun aku belum sempat berbakti kepadamu, berbuat baik kepadamu. Bahkan meminta maaf atas salah dan kekuranganku selama ini menjadi anak menantumupun belum.

Aku yakin engkau telah tenang di sana.. Bahkan penggali kuburmupun menjadi saksi betapa mudahnya iya menggali kuburmu seperti tanah gembur sendiri atau ada yang membantunya. Bahkan yang mengaji dikuburmupun bersaksi mendengar adzan dalam kuburmu. 

Ya Allah, semoga aku dapat memetik hikmah dari semua kejadian ini dan menjadikan ini pelajaran berharga untukku agar aku lebih istiqomah dalam beribadah kepadaMu dan mempertebal iman dan takwaku kepadaMu ya Allah ya Rob...

Selamat jalan Buya, semoga anak dan keturunanmu kelak dapat mencontohmu... Aamiin yra..
Read More - Buya Urwah Salim