Friday, 28 October 2011

Cerita pagi secangkir teh


Menyeruput teh panas di pagi hari, sambil berusaha menenangkan diri dan meredam emosi pagi ini. Alhamdulillah, secangkir teh tak melulu hanya bisa menghangatkan tapi jua mendinginkan suasana hati.

Ku awali kisah ini dengan cerita tipikal khas emak-emak bekerja. Grasa grusu di pagi hari hingga duduk manis menanti suami untuk bersama berangkat ke kantor. Sebagai ibu yang bekerja, suasana di pagi hari memang sangat 'heboh', grasa grusu menyiapkan keperluan si kecil, suami dan diri sendiri.

Pagi ini Raisa menangis, cukup tersedu-sedu dan kencang. Permasalahannya adalah karena dia ga mau makan bubur karena buburnya kucampur kecap sedikit. Yang dia tahu, botol berisi kecap itu pedas rasanya, dia belum bisa membedakan mana kecap, mana sambal. wal hasil, dia tetap kupaksa makan bubur, karena aku mau dia rasakan, kecap tidak pedas tapi manis. tapi dia tetap birsikukuh tak mau memakannya dan mulailah drama itu....

Ku bilang padanya, "ga usah ma mommy kalau ga mau" dan dijawabnya dengan tangisan yang luar biasa kencangnya.. well, mungkin aku salah memaksakan. but, every mothers have their own way of raising their children I think, so when you read this, please don't judge me whether it's wrong or right!

Setelah Raisa tenang dan akhirnya mau makan tapi dengan lauk yang berbeda (Nasi + abon ikan) akupun berhasil menenangkan suasana hatinya, dan dia pun ceria seketika lalu pergi bersama si mbak, jalan-jalan ke depan rumah.

Setelah itu, Drama berlanjut dengan perjalanan kami menuju kantor yang ternyata sudah mendapatkan hambatan-hambatan kecil mulai dari patal senayan s.d. gatsu. Walhasil, akhirnya ketika jam menunjukan pukul 7.50 kami berbelok ke Sudirman, pertanda aku tak bisa diantar sampai kantorku dan harus menyambung ojek dari Kantor suami.

Entah mengapa kali itu ojek yang ada hanya tinggal 3 (tiga) orang. Biasanya, di situ banyak sekali abang ojek yang mangkal. Ternyata akhirnya aku mendapat seorang tukang ojek, yang dari penampilannya aja kurang meyakinkan dan -maaf- terkesan jorok dan motornya pun tidak terawat dengan helm penumpang yang tidak sesuai standar (tanpa kaca depan). Komplain pertama saya adalah, jok nya basah dan saya enggan mengelap jok itu karena saya tidak tau, itu air apa? bisa aja kan air yg kotor dan kalau saya lap dengan tangan, malah tangan saya yang kotor. Ada tukang ojek lain yang akhirnya dengan baik hati mengelapkannya untuk saya. Keluhan kedua, si abang ojek itu tidak fokus ke jalan, dan malah liat kanan kiri, tengok2 ke belakang yang membuat saya risih dan mikir "ini orang kenapa siyh?".

Ternyata, dibalik gerak girik yang aneh tersebut, si tukang ojek bilang minta agar saya duduk lebih maju karena katanya dia tidak seimbang posisinya (LHA??) padahal saya duduk selayaknya duduk di motor, memang aga mundur ke belakang tapi masih posisi wajar kok, ya rasanya gada hubungan ma keseimbangan deh. biasanya pun dengan tukang ojek lain gada yang mengeluh, dan mereka tetap merasa fine fine saja. So, ga mau berlarut-larut akhirnya saya aga majuan duduknya sedikit dan memang itu sudah sempit tidak memungkinkan untuk maju lagi. tapi lagi-lagi si ojek ini tengok ke kanan ke belakang, ke bawah ban (ANEHH) dan bilang lagi ke saya, "bu kurang maju". Heloooo... mau maja kemana lagi??? akhirnya dengan murka dan penuh amarah tertahan semenjak tadi pagi, saya pun berucap "MAU MAJU KEMANA LAGI??? INI TUH UDAH MAJU, MASA MAU MEPET, ANEHHH!!" akhirnya dia pun diam seribu bahasa dan melanjutkan perjalanan sampai kantor.

Lah, ini ojek, udah bau (kali belum mandi ya??), gw pun uwe2 jadinya, masih aja minta duduknya majuan. Lu pikir????

Note: Sorry ya kalau keliatannya gw marah2 n underestimate si tukang ojek (baca: merendahkan) tapi, seumur-umur gw naik ojek gada yang lebih parah dari ini. So, untuk tukang ojek, walaupun Anda kerja di lapangan, mbo ya yang bersih n resik jaga badannya, biar rapi ga bau. Lah penumpangnya kan pada nyaman, aman gt. iya ga siyh?








image source: sini,

No comments: