Akhir pekan lalu, ketika saya menghabiskan waktu bersama Raisa, saya dikagetkan oleh prilaku Raisa yang baru saja saya lihat (dan ternyata setelah saya kroscek ke mama mertua, memang sedang sering ditunjukan oleh Raisa akhir-akhir ini).
Saat itu, dia memang kesal karena berebut mainan dengan kakak sepupunya Radhina. ya memang, Raisa lagi main ke rumah grandmanya (ortu saya), dan bermain lah ia bersama Radh, yang memang tinggal di rumah grandma.
Ketika Raisa tertarik pada suatu mainan dan ingin mengambilnya, sedangkan Radh tidak memperbolehkannya (dan akhirnya aku menarik Raisa mundur dan memberinya mainan lain) Raisa masih tetap tidak senang dengan keadaan itu dan tiba-tiba dia memukul kepalanya sendiri dengan tangan kanannya sampai tiga kali (setelah itu saya buru2 memegang tangannya), memangkunya dan memberi pengertian kalau itu mainan Radh dan sedang dimainkan. Dia hanya menyimak dan menunduk diam (ya, Raisa kalau kesal, atau marah cenderung nunduk diam ga bergerak, atau menepi mojok di pojokan alih-alih menangis). Tapi, menyakiti diri sendiri, memukul2 kepala, itu yang jadi kekhawatiran saya.
Dulu, saya pun teringat kalau Radh (sepupu Raisa) pernah juga ada fase menyakiti diri untuk mengekspresikan kekesalan, dia aga lebih ekstreem lagi, menjedodkan kepala ke tembok. tapi seingat saya, fase itu sudah hilang. Radhina kini ga pernah saya lihat melakukan itu.
Berbekal beberapa milis dan forum ibu-ibu serta blog para smart mamas yang ga pelit ilmu dan sering berbagi info by blog mereka *thank youuu, saya jadi tau tentang prilaku Raisa tadi. ya, Namanya Tantrum. Di mommiesdaily bahkan diulas tentang mengatasi dan menyelesaikan tantrum sejak dini. Di situ tertulis "Temper tantrum atau yang kerap disingkat ‘tantrum’ sebenarnya merupakan cetusan atau letupan emosi yang tampil dalam bentuk perilaku agresif tak terkendali. Tantrum biasanya muncul saat terjadi situasi yang secara emosi mengecewakan, misalnya saat anak gagal mendapat apa yang ia inginkan atau saat permintaan anak ditolak oleh orangtua".
Ketika sedang googling googling tentang tantrum, saya juga menemukan referensi yang cukup jelas tentang ulasan tantrum di blognya the karimuddin, hasil dari workshop hypnoparenting oleh Ibu Evariny Adriana yang dihadiri penulis (thx udah menulis ringkasannya :)).
Di situ dijelaskan bagaimana menghadapi anak ketika temper tantrumnya muncul, diantaranya kita sebagai ortu harus:
1. Sabar
2. Konsisten
3. Transisikan gelombang otak anak
4. Alihkan pola tindakan
5. Saat semua sudah reda, jangan biarkan anak melupakan kejadian tadi
6. Hug Therapy
So, sekarang setidaknya saya sudah tau bagaimana menghadapi Raisa ketika temper tantrumnya muncul.
1 comment:
Thanks for sharing ^_^
Post a Comment